TEMPAT BERSEJARAH DI KABUPATEN TEGAL

TEMPAT BERSEJARAH DI KABUPATEN TEGAL

TEMPAT BERSEJARAH DI KABUPATEN TEGAL

Tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Tegal sebagai kekayaan cagar budaya, merupakan potensi wisata di Tegal yang sarat dengan pesan nilai-nilai mengenai bagaimana leluhur masyarakat Tegal berjuang babat alas dan membangun Kabupaten Tegal.

“Jas merah”, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, demikian diungkapkan oleh Bung Karno, sang pendiri bangsa. Makam tokoh-tokoh sejarah dan beberapa monumen peringatan kejadian sejarah, semuanya merupakan saksi perjalanan panjang Kabupaten Tegal yang penuh warna dan dinamika.

Berikut ulasan singkat wisata di Tegal berupa tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Tegal yang disajikan oleh Tour Tegal, sebagai pengantar untuk mengenal dan mengetahui perjalanan sejarah kabupaten yang berada di pesisir utara Jawa Tengah ini.

Makam Sunan Amangkurat I

Sunan Amangkurat adalah raja Kesultanan Mataram tahun 1646-1677. Ia lahir pada tahun 1619 dan meninggal tahun 1677 saat menumpas pemberontakan adiknya sendiri, Mas Alit. Kehidupan politik Amangkurat diwarnai dengan berbagai konflik yang melibatkan orang-orang terdekatnya, seperti Adipati Anom, Pangeran Kajoran, Trunojoyo, Pangeran Alit, Pangeran Purbaya, dan para ulama.

Makam Sunan Amangkurat Tegal berada di Desa Pesarean Kecamatan Adiwema Kabupaten Tegal Jawa Tengah. Makam Amangkurat memiliki cungkup berbentuk rumah tajug. Bangunan makam terbuat dari kayu jati dengan pagar dari batu merah yang mengelilingi pesarean tersebut.

Kompleks makam Sunan Amangkurat memiliki luas 1,1 hektare dengan luas cungkup makam sepanjang tujuh meter dan selebar tujuh meter. Menurut pendataan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, kondisi makam dalam keadaan baik.

Makam Gendowor

Gendowor atau Narantaka adalah prajurit Sunan Amangkurat I yang setia menemani pelarian dari Plered ke Batavia. Saat rombongan raja Amangkurat tiba di Banyumas, Gendowor diperintahkan menuju Tegal untuk menjemput Adipati Mertoloyo. Namun sebelum Adipati Mertoloyo sampai di Banyumas, raja Amangkurat telah wafat terlebih dulu di Ajibarang, Tegal.

Makam Gendowor berada di Desa Tembok Luwung Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal. Nisan Gendowor terbuat dari kayu yang ditutup dengan kain mori putih. Data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan jika kondisi makam ini dalam keadaan baik.

Makam Kyai Djinten atau Mbah Dagan

Kyai Djinten merupakan tokoh penyebar agama Islam di daerah Desa Balamoa Kecamatan Pangkah. Selain mengajarkan ilmu agama, ia mendirikan pondok pesantren yang mengajarkan ilmu mengenai pertanian dan ilmu kanuragan. Kyai Djinten atau Mbah Dagan menyebarkan agama Islam di Desa Tembok Luwung, di sana lah beliau menemui ajalnya. 

Kyai Djinten atau Nyai Jinten dimakamkan di Desa Tembok Luwung, Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal Jawa Tengah. Makam Nyai Jinten dibangun lebih tinggi dari makam yang lain dan berundak-undak sehingga beliau dikenal dengan sebutan Mbah Undangan atau mbah Dagan.

Menurut data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Nyai Jinten meninggalkan benda pusaka berupa keris. Hingga hari ini, keris tersebut disimpan di Museum Sekolah Slawi dengan prasasti bertuliskan aksara Jawa. Makam Nyai Jinten masih dalam kondisi baik.

Makam Semedo

Makam Semedo Tegal merupakan salah satu wisata religi yang hingga hari ini banyak dikunjungi para peziarah. Berada di Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng, kompleks makam ini memiliki beberapa makam, antara lain makam Pangeran Suryo Hadi Kusumo (Syekh Abdurrahman, dikenal dengan sebutan Mbah Semedo), dan makam Raden Mas Panji Haji Tjokronegoro VI (Bupati Tegal ke-12, dikenal sebagai Mbah Kaloran).

Makam Pangeran Suryo Hadi Kusumo memiliki panjang dua meter dengan bahan dari keramik dan porselen. Sedangkan makam Raden Mas Panji Haji Tjokronegoro memiliki panjang dua meter, tinggi 4,5 meter, dan berbahan dari porselen dan kayu, beliau wafat tahun 1815 dan pernah menjabat sebagai Bupati Tegal ke-12, atau Bupati Tegal ke-10 setelah pusat pemerintahan berpindah ke wilayah utara (utara, lor, kaloran).

Kedua makam ini pernah mengalami pemugaran oleh Pemerintah Kabupaten Tegal pada tahun 1987 dan tahun 2015. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal menyatakan keadaan makam Semedo dalam kondisi baik.

Makam Pangeran Benowo

Pangeran Benowo merupakan seorang penyebar agama Islam di Desa Balamoa Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal. Ia adalah putera dari Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang. Ia dikenal pula dengan sebutan Ki Ageng Balamoa.

Pangeran Benowo Tegal selain mengajarkan ilmu agama Islam dalam sebuah pondok pesantren, beliau juga memberikan ilmu mengenai pertanian kepada masyarakat Desa Balamoa. Sehingga pertanian di daerah tersebut cukup mengalami peningkatan.

Pangeran Benowo wafat pada tahun 1684 dan dimakamkan di Desa Balamoa. Makam beliau berdampingan dengan makam Nyi Jinten. Menurut pendataan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, hingga hari ini keadaan makam Pangeran Benowo masih dalam kondisi baik.

Makam Mbah Zamzami

Perkembangan agama Islam di pulau Jawa menyebar di berbagai daerah. Salah satunya di Kabupaten Tegal Jawa Tengah. Hingga hari ini, banyak peziarah yang mengunjungi beberapa makam para leluhur mereka, terutama para penyebar agama Islam di Tegal.

Sayid Abdulrachman Ibrahim Al Zamzami merupakan tokoh penyebar agama Islam keturunan Arab. Beliau wafat pada tahun 1883 dan dimakamkan di pemakaman umum di Desa Pesarean di Kecamatan Pagerbarang.

Makan mbah Zamzani memiliki panjang 2,5 meter dengan bahan keramik, porselen dan kayu. Menurut data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, kondisi makam mbah Zamzani dalam keadaan baik.

Makam Syech Atas Angin

Syech Atas Angin atau Syech Muhammad merupakan putra dari Syech Maulana Maghribi. Beliau merupakan seorang tokoh penyebar agama Islam di Desa Pedagangan dan Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal. Mbah Atas Angin menyebarkan agama Islam di kedua daerah yang saat itu mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha.

Makam Syech Atas Angin berada di Desa Pedagangan, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Di tengah komplek makam Mbah Jaksa, makam Syech Atas Angin berada di atas sebidang tanah seluas dua ribu meter. Bahan makam beliau yakni berupa kayu dan dalam kondisi yang baik.

Makam Pangeran Hanggawana

Pangeran Hanggawana merupakan putra Ki Gede Sebayu, tokoh yang mbabat alas tlatah Tegal. Pangeran Hanggawana meneruskan pembangunan yang telah dibangun oleh ayahnya dan diangkat menjadi sesepuh daerah Desa Kalisoka yang kini berada di Kecamatan Dukuhwaru.

Pangeran Hanggawana merupakan pelopor pembangunan Kabupaten Tegal di bidang pertanian. Beliau membangun bendungan di beberapa sungai untuk sarana irigasi agar dapat mengairi sawah penduduk. Seperti kali Bliruk, kali Jembangan, kali Wadas, dan kali Kembang.

Makam Pangeran Hanggawana berada di kompleks pemakaman seluas 1.375 meter di Desa Kalisoka Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal. Bentuk atap makam ini berupa limasan bergenteng flam dan memiliki enam buah tiang dari batu bata. Panjang makam sekitar 2,5 meter dan terbuat dari bahan jati dan keramik.

Makam Ki Gede Sebayu

Ki Gede Sebayu merupakan pelopor babat alas tlatah Tegal yang merupakan keturunan bangsawan Batoro Katong atau Syech Sekar Delima (Adipati Wengker Ponorogo. Nama ayah Ki Gede Sebayu merupakan Adipati Purbalingga yakni Pangeran Onje.

Ki Gede Sebayu Tegal mengabdi di Keraton Pajang, Kasultanan Hadiwijaya sebagai prajurit tamtama. Di sana beliau menerima Pendidikan keprajuritan dan ilmu kanuragan. Namun saat Kasultanan Pajang digantikan oleh Aryo Pangiri, Ki Gede Sebayu meninggalkan Pajang dan menuju Desa Sedayu.

Ki Gede Sebayu dan para pengikutnya melakukan perjalanan kea rah Barat, hingga menyusuri pantai Utara dan sampai lah di Kali Gung. Ia bermaksud mbabat alas demi membangun masyarakat tlatah Tegal.

Antara lain memetakan potensi alam dan masyarakat, membangun bendungan di Kali Gung untuk irigasi ke sawah penduduk, dan memberi penamaan terhadap sejumlah daerah di Tegal seperti nama Slawi yang memiliki makna tempat berkumpulnya para satria yang berjumlah selawe atau dua puluh lima.

Makam Ki Gede Sebayu berada di Desa Danarwih Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal. Makam beliau memiliki panjang 1,5 meter dengan bahan batu marmer. Menurut data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kondisi makam beliau dalam keadaan baik.

Makam Pangeran Purbaya

Pangeran Purbaya adalah putra Sultan Agung dari Kerajaan Mataram dan sebagai menantu Ki Gede Sebayu. Bersama dengan Ki Ciptosari dan Wangsamuda mereka mendirikan pondok pesantren yang mengajarkan ilmu kanuragan atau bela diri dan ilmu kesaktian yang menggunakan mantra.

Pangeran Purbaya Kalisoka berguru kepada Ki Gede Sebayu, seorang pelopor babat alas tlatah Tegal. Dalam masa tersebut, beliau memiliki beberapa pantangan atau menghindari beberapa larangan. Antara lain memiliki sifat tamak, murtad, kuminter, kumingsum, kumalungkung, dan sifat buruk lainnya.

Pangeran Purbaya Tegal menikahi puteri Ki Ggede Sebayu bernama Raden Rara Giyanti Subhaleksana. Beliau juga membangun masjid jami’ di Padepokan Pesantren Desa Kalisoka. Bersama Ki Ciptosari beliau membangun balong (sejenis tambak) ikan tambra di Desa Cenggini yang airnya dihunakan sebagai irigasi ke persawahan penduduk.

Makam Pangeran Purbaya berada di Desa Kalisoka Kecamatan Dukuhwaru. Kompleks makam beliau terbagi menjadi tiga galaman yang dibatasi dengan pagar batu bata. Bangunan cungkup dibagi dua ruang yaitu makam yang tertutup tembok dan serambi terbuka yang mengelilingi makam.

Nisan Pangeran Purbaya terbuat dari kayu dengan kondisi yang telah rapuh. Meski begitu, menurut data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal kondisi makam Pangeran Purbaya masih dalam keadaan baik. Nisan beliau dikategorikan sebagai tipe Demak-Troloyo.

Monumen GBN Lebaksiu

Monumen GBN Lebaksiu dibangun untuk mengenang peristiwa 1950 sampai 1962 yakni Gerakan Banteng oleh TNI yang memerangi sebuah gerakan ekstrim bernama Darul Islam (DI/TII). Gerakan DI/TII yang dipimpin oleh Sukarmadji Kartosuwiryo menyatakan melawan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Daerah yang banyak diduduki oleh DI/TII yakni Pagerbarang, Margasari, Bumijawa, Bojong, Jatinegara, Balapulang, Lebaksiu, dan Kedungbanteng. Wilayah lalu lintas DI/TII adalah Pangkah hingga Warureja. Tokoh berpengaruh DI/TII adalah Mustopa dan Amir Patah.

DI/TII merupakan suatu gerakan yang terkenal kejam sehingga ditakuti oleh penduduk. Gerakan tersebut melakukan pemebrontakan terhadap pemerintahan, melakukan terror di tengah masyarakat dengan membakar rumah warga tak berdosa.

Kolonel Ahmad Yani membentuk Benteng Riders untuk menumpas gerakan DI/TII. Pasukan khusus itu terdiri dari Kompi I yang dipimpin oleh Kapten Yyasir, Kompi II dipimpin oleh Kapten Pujadi. Pasukan Khusus membentuk metode pagar betis untuk membatasi ruang gerak para pengikut DI/TII, hingga pada tanggal 4 Juni 1962 di Gunung Geber, Majalaya Jawa Barat, akhirnya Sukarmadji Kartosuwiryo menyerahkan diri.

Monumen GBN Lebaksiu dibangun untuk mengenang sejarah yang pernah terjadi di Kabupaten Tegal. Sehingga dapat memberikan pemahaman sejarah perjuangan membela tanah air pada generasi penerus, khususnya di Kabupaten Tegal. Monumen GBN Lebaksiu berada di Desa Lebaksiu Kidul, Kecamatan Lebaksiu.

Monumen TNI AL – Kalibakung

Kabupaten Tegal Jawa Tengah pernah dipilih sebagai tempat pendidikan bagi Sekolah Angkatan Laut (SAL). Pemilihan tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa Tegal pernah memiliki sekolah pelayaran. Sementara kota besar seperti Surabaya, Jakarta maupun Semarang saat itu masih mengalami gejolak pertempuran melawan Belanda.

Sekolah Angkatan Laut Tegal mulai diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 12 Mei 1946 yang disaksikan Wakil Presiden Moh.Hatta, Panglima Besar Soedirman, jajaran Menteri, pejabat teras Mabes ALRI Yogyakarta dan anggota ALRI Pangkalan IV Tegal.

Peresmian Sekolah Angkatan Laut di Tegal dijadikan tonggak sejarah bagi perkembangan pendidikan TNI AL. ALRI semula bernama TKR Laut yang disempurnakan menjadi ALRI Pangkalan IV Tegal. Tegal juga mendirikan Pusat Pendidikan Calon Perwira ALRI yang sekarang disebut Akademi ALRI.

Monumen yang berlokasi di Desa Kalibakung, Kecamatan Balapulang ini memiliki diameter 6×6 dengan bahan keramik. Monumen TNI AL Kalibakung diresmikan pada 12 Mei 1978 oleh Panglima Daerah IV Laksamana Muda TNI Atmodjo Broto Darmodjo.

Monumen Ranjau Kalibakung

Monumen Ranjau Kalibakung dibangun di kawasan yang sama dengan Monumen TNI Angkatan Laut Kalibakung. Pembuatan monument ini bertujuan sebagai simbol kekuatan bagi TNI AL sebab ranjau merupakan salah satu peralatan yang digunakan oleh TNI AL untuk melawan musuh, khususnya di wilayah perairan.

Monumen Ranjau berada di Desa Kalibakung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal. Monumen ini menggunakan bahan dari besi baja dengan diameter 3×3. Menurut data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, monument bersejarah ini dalam kondisi baik.

Jembatan Merah (Brug Abang)

Meski jembatan ini berwarna biru namun memiliki nama jembatan merah atau lebih dikenal dengan brug abang. Nama tersebut berasal dari sejarah pembantaian terhadap pejabat pramong praja dan masyarakat tak berdosa oleh Kutil. Kutil merupakan tukang cukur (Ketua Persatuan Tukang Gunting Republik Indonesia atau PERTUGRI).

Kejadian tersebut lebih dikenal dengan peristiwa Gerakan Tiga Daerah yang dipimpin oleh Kutil atau Sakhjani. Peristiwa ini dipicu oleh tekanan dan penindasan yang membangkitkan kebencian terhadap sistem penjajahan maupun terhadap penguasa daerah pendukung penjajahan itu sendiri.

Peristiwa Gerakan Tiga Daerah ini menjadi sejarah kelam bagi masyarakat di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Kejadian tersebut menorehkan luka mendalam bagi masyarakat sebab mayoritas korban adalah putra putri terbaik daerah. Jembatan merah menjadi saksi pembantaian tersebut sehingga kata “merah” dimaknai oleh mengalirnya darah para korban.

Peristiwa mengerikan ini berada di Pesayangan (pintu air jembatan merah). Bagi mereka yang dianggap bersalah akan diarak dengan iringan tetabuhan tombreng-tombreng menuju jembatan merah. Monumen ini berada di Desa Pesayangan Kecamatan Talang dengan bahan dari besi berdiameter 5×50 meter.

4 thoughts on “TEMPAT BERSEJARAH DI KABUPATEN TEGAL

    1. Sugi yanto

      Untuk Monumen TNI AL & Monumen Ranjau ada di desa kalibakung, kecamatan balapulang, kabupaten tegal.dari Jakarta naik bus AKAP jurusan Jakarta – Purwokerto, minta turun di pertigaan yomani lalu naik ojeg, angdes angkutan desa, elf minta turun di wkj kalibakung eks pemandian satu komplek dengan WKJ ( Wisata Kesehatan Jamu )

  1. rendi

    Pranantaka yg riwayatnya ketika mengabdi jadi bawahan Adipati Mertalaya dan pernah memetik bungawijaya kusuma di pulau nusa kambangan sebagai syarat adat kraton yg ketika itu Adipati Anom hendak menjadi Raja gelar Amangkurat II tahun 1678. Pranantaka / Gendowor ini lalu jadi Patih Harya Sindureja menggantikan Patih Nerangkusuma. Wafat tahun sengkalan Buta Kalih ngarso tunggil ( 1625 AJ) di Parimono saat ini salah satu desa di Magelang. Bukan wafat di Tegal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *